Minggu, 25 Mei 2014

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah


 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain (Stuart and Sundeen, 199). Harga Diri Rendah Kronis adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri, termasuk kehilangan percaya diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Departemen Kesehatan, 1998).
Berdasarkan catatan World Health Organization (WHO), sebanyak 450 juta orang di muka Bumi mengalami gangguan mental (mental disorder), 150 juta mengalami depresi, 25 juta orang mengalami skizofrenia, sebagai gambaran, di negara Indonesia survey tentang penderita gangguan jiwa tercatat 44,6% per 1.000 penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Berdasarkan data yang diperoleh penulis, jumlah pasien yang dirawat di Rumah Sakit Atma Husada Mahakam Samarinda pada bulan Januari sampai November 2009 adalah sebanyak 852 orang.
Berdasarkan fakta – fakta seperti itu sudah seharusnya menjadi cacatan bagi kita di Indonesia dalam mengatasi kesehatan jiwa yang sudah mengkhawatirkan dewasa ini akibat terjadinya “perang”, konflik dan lilitan krisis ekonomi berkepanjangan. Karena secara nyata kondisi seperti itulah yang merupakan salah satu pemicu yang memunculkan rasa stress, depresi dan berbagai gangguan jiwa pada manusia.
Dengan meningkatnya angka gangguan jiwa di Indonesia, maka perlunya dilakukan perawatan yang lebih intensif pada klien dengan Harga Diri Rendah Kronis secara menyeluruh meliputi Bio – Psiko – Sosio – Spiritual, dimana penanganan klien dengan Harga Diri Rendah pada kuhususnya dan gangguan jiwa pada umumnya, menekankan ke arah profesionalisme profesi keperawatan oleh sebab itu penyusun tertarik untuk mengangkat Asuhan Keperawatan pada klien dengan Harga Diri Rendah Kronis sebagai judul makalah.
Berdasarkan faktor – faktor tersebut di atas, sehingga perawatan masalah dengan Harga Diri Rendah Kronis sangat memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena seseorang yang mengalami gangguan jiwa dengan harga diri rendah pasti akan merasa dirinya tidak berharga, tidak mampu, dan selalu mengatakan bahwa dirinya tidak berguna, yang mana hal ini dapat memicu seseorang mengalami stress.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi harga diri rendah?
2.      Apa saja komponen konsep diri?
3.      Bagaimana rentang respon konsep harga diri rendah?
4.      Apa etiologi harga diri rendah?
5.      Apa saja tanda dan gejala harga diri rendah?
6.      Bagaimana psikopatofisiologi harga diri rendah?
7.      Bagaimana penatalaksanaaan harrga diri rendah?
8.      Bagaimana mekanisme koping harga diri rendah?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi harga diri rendah
2.      Untuk mengetahui komponen konsep diri
3.      Untuk mengetahui rentang respon konsep harga diri rendah
4.      Untuk mengetahui etiologi harga diri rendah
5.      Untuk mengetahui tanda dan gejala harga diri rendah
6.      Untuk mengetahui psikopatofisiologi harga diri rendah
7.      Untuk mengetahui penatalaksanaaan harrga diri rendah
8.      Untuk mengetahui mekanisme koping harga diri rendah

D.    Manfaat Penulisan
a)      Bagi Perawat
Dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Harga Diri Rendah Kronis atau situasional.
b)      Bagi Institusi
Makalah tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan Harga Diri Rendah Kronis atau situasional dapat menambah bahan – bahan referensi di perpustakaan institusi.
1.3.3        Bagi Pembaca
Makalah ini dapat dijadikan pengalaman dan latihan bagi pembaca dalam menyusun asuhan keperawatan Harga Diri Rendah Kronis atau situasional















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Definisi
Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir ; tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dengan realitas dunia, kemudian melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan dengan orang lain.
Harga Diri Rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri, termasuk kehilangan kepercayaan diri, tidak berharga, tidak berguna, pesimis, tidak ada harapan dan putus asa (Departemen Kesehatan, 1998).
Seseorang yang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa – apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Orang dengan konsep diri negatif akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Akan ada dua  pihak yang bisa disalahkannya, entah itu menyalahkan diri sendiri (secara negatif) atau menyalahkan orang lain (Rini, J.F, 2002).
Harga Diri Rendah dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan. Harga Diri Rendah dapat terjadi secara :
1.      Situasional yaitu terjadi trauma yang tiba – tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan, dicerai suami/ istri, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba – tiba).
2.      Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/ dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan respon yang mal adaptif. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik yang kronis atau pada klien gangguan jiwa.

B.     Komponen Konsep Diri
Komponen Konsep Diri terdiri atas :
1.      Citra tubuh (Body Image)
Citra tubuh (Body Image) adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman yang baru (Stuart & Sundeen, 1998).
2.      Ideal Diri (Self Ideal)
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku sesuai dengan standar, aspirasi, tujuan atau nilai personal tertentu (Stuart & Sundeen, 1998). Sering juga disebut bahwa ideal diri sama dengan cita – cita, keinginan, harapan tentang diri sendiri.
3.      Identitas Diri (Self Identifity)
Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikkan individu (Stuart & Sundeen, 1998). Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja
4.      Peran Diri (Self Role)
Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial. Peran yang diterapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu (Stuart & Sundeen, 1998).
5.      Harga Diri (Self Esteem)
Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan, tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga (Stuart & Sundeen, 1998.

C.     Rentang Respon Konsep Diri
 Rentang Respon Harga Diri
1.      Respon adaptif adalah respon yang dihadapi klien untuk menghadapi masalah dan bisa memecahkannya.
·         Aktualisasi Diri
Adalah kesadaran akan diri berdasarkan atas observasi mandiri termasuk persepsi saat lalu akan diri dan perasaannya.
·         Konsep diri positif
Menunjukkan individu akan sukses dalam mengahdapi hidupnya.
2.      Respon maladptif adalah respon individu dalam menghadapi masalah dimana individu tudak dapat memecahkan masalah tersebut. Adapun respon maladaptive gangguan konsep diri adalah :
·         Gangguan harga diri
Adalah transisi antara respon konsep diri adaptif dan maladaptive
·         Kerancuan identitas
Identitas diri kacau atau tidak jelas sehingga tidak memberikan kehidupan dalam mencapai tujuan.
·         Depersonalisasi
Yaitu mempunyai keptibadian yang kurang sehat, tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara intim, tidak ada rasa percaya diri, dan tidak dapat membina hubungan dengan orang lain.

D.    Etiologi
1.      Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor predisposisi yang menyebabkan harga diri rendah yaitu :
a)      Perkembangan individu yang meliputi :
·         Adanya penolakan dari orang tua, sehingga anak merasa tidak dicintai kemudian dampaknya anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal pula untuk mencintai orang lain.
·         Kurangnya pujian dan kurangnya pengakuan dari orang – orang  tuanya atau orang tua yang penting/ dekat dengan individu yang bersangkutan.
·         Sikap orang tua over protecting, anak merasa tidak berguna, orang tua atau orang terdekat sering mengkritik serta merevidasikan individu.
·         Anak menjadi frustasi, putus asa merasa tidak berguna dan merasa rendah diri.
b)      Ideal diri
·         Individu selalu dituntut untuk berhasil.
·         Tidak mempunyai hak untuk gagal dan berbuat salah.
·         Anak dapat menghakimi dirinya sendiri dan hilangnya rasa percaya diri.
2.      Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi atau stresor pencetus dari munculnya harga diri rendah mungkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal seperti:
a)      Gangguan fisik dan mental salah satu anggota keluarga sehingga keluarga merasa malu dan rendah diri.
b)      Pengalaman traumatik berulang seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan, aniaya fisik, kecelakaan, bencana alam dan perampokan. Respon terhadap trauma pada umumnya akan mengubah arti trauma tersebut dan kopingnya adalah represi dan denial.
c)      Ketegangan peran
Stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami dalam peran atau posisi
d)     Konflik peran
Ketidaksesuaian peran dengan apa yang diinginkan
e)      Peran yang tidak jelas
Kurangnya pengetahuan individu tentang peran
f)       Peran yang berlebihan
Menampilkan seperangkat peran yang konpleks
g)      Perkembangn transisi
Perubahan norma dengan nilai yang taksesuai dengan diri
h)      Situasi transisi peran
Bertambah/ berkurangnya orang penting dalam kehidupan individu
i)        Transisi peran sehat-sakit
Kehilangan bagian tubuh, prubahan ukuran, fungsi, penampilan, prosedur pengobatan dan perawatan.

E.     Tanda dan Gejala
·         Merasa bersalah dan khawatir, menghukum dan menolak diri sendiri
·         Mengejek dan mengkritik diri
·         Mengalami gejala fisik, missal : tekanan darah tinggi
·         Menunda keputusan
·         Sulit bergaul
·         Menghindari kesenangan yang dapat meberi rasa puas
·         Menarik diri dari realitas, cemas, panic, cemburu, curiga, halusinasi
·         Merusak diri : harga diri rendah menyokong pasien untuk mengakhirinya hidup
·         Merusak/melukai orang lain
·         Perasaan tidak mampu
·         Pandangan hidup yang pesimistis
·         Tidak menerima pujian
·         Penurunan produktivitas
·         Penolakan terhadap kemampuan diri
·         Kurang memerhatikan perawatan diri
·         Berpakaian tidak rapih
·         Berkurang selera makan
·         Tidak berani menatap lawan bicara
·         Lebih banyak menunduk
·         Bicara lambat dengan nada suara lemah.

F.      Psikopatofisiologi
Menurut Stuart (2005), berbagai faktor menunjang terjadinya perubahan dalam konsep diri seseorang yaitu Faktor predisposisi yang merupakan faktor pendukung harga diri rendah meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak relistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggungjawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. Faktor yang mempengaruhi performa peran adalah peran gender, tuuntutan peran kerja, dan harapan peran budaya. Faktor yang mempengaruhi identitas pribadi meliputi ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan struktur sosial. Sedangkan faktor presipitasi munculnya harga diri rendah meliputi trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksika kejadian yang megancam kehidupan dan ketegangan peran beruhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalami frustrasi.

Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman. Klien semakin tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan. Semakin klien menjauhi kenyataan semakin kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain.

Tanda dan gejala yang muncul pada gangguan konsep diri harga diri rendah yaitu mengkritik diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan,gangguan dalam berhubungan, penurunan produktivitas, destruktif yang diarahkan pada orang lain, rasa bersalah, ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesimis, adanya keluhan fisik, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung, menarik diri secara realitas,penyalahgunaan zat dan menarik diri secara sosial.(Stuart & Sundeen, 1998, hal. 230).melihat tanda dan gejala diatas apabila tidak ditanggulangi secara intensif akan menimbulkan distress spiritual, perubahan proses pikir (curiga), perubahan interaksi sosial (menarik diri) dan resiko terjadi amuk.

G.    Penatalaksanaan
a)         Psikofarmaka
Adapun obat psikofarmaka yang ideal yaitu yang memenuhi syarat sebagai berikut :
·         Dosis rendah dengan efektifitas terapi dalam waktu yang cukup singkat.
·         Tidak ada efek samping kalaupun ada relative kecil.
·         Dapat menghilangkan dalam waktu yang relative singkat, baik untuk gejala positif maupun gejala negative skizofrenia.
·         Tidak menyebabkan kantuk
·         Memperbaiki pola tidur
·         Tidak menyebabkan lemas otot.
Berbagai jenis obat psikofarmaka yang beredar dipasaran yang hanya diperoleh dengan resep dokter, dapat dibagi dalan 2 golongan yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan kedua (atypical). Obat yang termasuk golongan generasi pertama misalnya chlorpromazine HCL, Thoridazine HCL, dan Haloperidol. Obat yang termasuk generasi kedua misalnya : Risperidone, Olozapine, Quentiapine, Glanzapine, Zotatine, dan aripiprazole.
b)        Psikoterapi
Therapy kerja baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak mengasingkan diri lagi karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama. (Maramis,2005)
c)         Therapy Kejang Listrik ( Electro Convulsive Therapy)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmall secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang satu atau dua temples. Therapi kejang listrik diberikan pada skizofrenia yang tidak mempan denga terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik. (Maramis, 2005)
d)        Therapy Modalitas
Therapi modalitas/perilaku merupakan rencana pengobatan untuk skizofrrenia yang ditujukan pada kemampuan dan kekurangan klien. Teknik perilaku menggunakan latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. Kemampuan memenuhi diri sendiri dan latihan praktis dalam komunikasi interpersonal. Therapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana dan masalah dalam hubungan kehidupan yang nyata.
Therapy aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu therapy aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, theerapy aktivitas kelompok stimulasi sensori, therapi aktivitas kelompok stimulasi realita dan therapy aktivitas kelompok sosialisasi (Keliat dan Akemat,2005). Dari empat jenis therapy aktivitas kelompok diatas yang paling relevan dilakukan pada individu dengan gangguan konsep diri harga diri rendah adalah therapyaktivitas kelompok stimulasi persepsi. Therapy aktivitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah therapy yang mengunakan aktivitas sebagai stimulasi dan terkait dengan pengalaman atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok, hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.(Keliat dan Akemat,2005).

H.    Mekanisme Koping
Menurut Keliat (1998), mekanisme koping pada klien dengan gangguan konsep diri dibagi dua yaitu:
1.      Koping jangka pendek
·         Aktivitas yang memberikan kesempatan lari sementara dari krisis, misalnya : pemakaian obat, ikut musik rok, balap motor, olah raga berat dan obsesi nonton televisi.
·         Aktivitas yang memberi kesempatan mengganti identitas, misalnya: ikut kelompok tertentu untuk mendapat identitas yang sudah dimiliki kelompok, memiliki kelompok tertentu, atau pengikut kelompok tertentu.
·         Aktivitas yang memberi kekuatan atau dukungan sementara terhadap konsep diri atau identitas diri yang kabur, misalnya: aktivitas yang kompetitif, olah raga, prestasi akademik, kelompok anak muda.
·         Aktivitas yang memberi arti dari kehidupan, misalnya: penjelasan tentang keisengan akan menurunnya kegairahan dan tidak berarti pada diri sendiri dan orang lain.
2.      Koping jangka panjang
Semua koping jangka pendek dapat berkembang menjadi koping jangka panjang. Penyelesaian positif akan menghasilkan ego identitas dan Keunikan individu.
Identitas negatif merupakan rintangan terhadap nilai dan harapan masyarakat. Remaja mungkin menjadi anti sosial, ini dapat disebabkan karena ia tidak mungkin mendapatkan identitas yang positif. Mungkin remaja ini mengatakan “saya mungkin lebih baik menjadi anak tidak baik”.
Individu dengan gangguan konsep diri pada usia lanjut dapat menggunakan ego-oriented reaction (mekanisme pertahanan diri) yang bervariasi untuk melindungi diri. Macam mekanisme koping yang sering digunakan adalah : fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi.
Dalam keadaan yang semakin berat dapat terjadi deviasi perilaku dan kegagalan penyesuaian sebagai berikut: psikosis, neurosis, obesitas, anoreksia, nervosa, bunuh diri criminal, persetubuhan dengan siapa saja, kenakalan, penganiayaan.















BAB III
                                                    ASUHAN KEPERAWATAN      

A.    Pengkajian
a.       Identitas klien meliputi Nama, umur, jenis kelamin, tanggal dirawat, tanggal pengkajian, nomor rekam medic
b.      Faktor predisposisi merupakan factor pendukung yang meliputi factor biologis, factor psikologis, social budaya, dan factor genetic
c.       Factor presipitasi merupakan factor pencetus yang meliputi sikap persepsi merasa tidak mampu, putus asa, tidak percaya diri, merasa gagal, merasa malang, kehilangan, rendah diri, perilaku agresif, kekerasan, ketidak adekuatan pengobatan dan penanganan gejala stress pencetus pada umunya mencakup kejadian kehidupan yang penuh dengan stress seperti kehilangan yang mempengaruhi kemampuan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan menyebabkan ansietas.
d.      Psikososial yang terdiri dari genogram, konsep diri, hubungan social dan spiritual
e.       Status mental yang terdiri dari penampilan, pembicaraan, aktifitas motorik, alam perasaan, afek pasien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat kosentrasi dan berhitung, kemampuan penilaian, dan daya tilik diri.
f.       Mekanisme koping: koping yang dimiliki klien baik adaptif maupun maladaptive
g.      Aspek medic yang terdiri dari diagnose medis dan terapi medis

Pada proses pengkajian, data penting yang perlu saudara dapatkan adalah:
No
Masalah Keperawatan
Data Subyektif
Data Obyektif
1
Masalah utama : gangguan konsep diri : harga diri rendah
Mengungkapkan ingin diakui jati dirinya. Mengungkapkan tidak ada lagi yang peduli. Mengungkapkan tidak bisa apa-apa.    Mengungkapkan dirinya tidak berguna.   Mengkritik diri sendiri. Perasaan tidak mampu.
Merusak diri sendiri, Merusak orang lain, Ekspresi malu,
Menarik diri dari hubungan social, Tampak mudah tersinggung,            Tidak mau makan dan tidak tidur
2
Mk : Penyebab tidak efektifnya koping individu
Mengungkapkan ketidakmampuan dan meminta bantuan orang lain.          Mengungkapkan malu dan tidak bisa ketika diajak melakukan sesuatu.  Mengungkapkan tidak berdaya dan tidak ingin hidup lagi.
Tampak ketergantungan terhadap orang lain  Tampak sedih dan tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dapat dilakukan                Wajah tampak murung
3
Mk : Akibat isolasi sosial menarik diri
Mengungkapkan enggan bicara dengan orang lain  Klien mengatakan malu bertemu dan berhadapan dengan orang lain.
Ekspresi wajah kosong tidak ada kontak mata ketika diajak bicara  Suara pelan dan tidak jelas                         Hanya memberi jawaban singkat (ya/tidak)      Menghindar ketika didekati


B.     Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data diatas, yang didapat melalui observasi, wawancara atau pemeriksaan fisik bahkan melalui sumber sekunder, maka perawat dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien sebagai berikut:
a.       Harga Diri Rendah
b.      Isolasi Sosial


C.     Intervensi Keperawatan
No.
DX KEP
TUJUAN
KRITERIA EVALUASI
INTERVENSI
1
Harga diri rendah
TUM :
Klien memiliki konsep diri yang positif.
TUK:
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Setelah…X interaksi, klien menunjukkan :
·         Ekspresi wajah bersahabat
·         Menunjukkan rasa senang
·         Ada kontak mata
·         Mau berjabat tangan
·         Mau menyebutkan nama
·         Mau menjawab salam
·         Mau duduk berdampingan dengan perawat
·         Mau mengutarakan masalah yang dihadapi
1.      Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
·         Sapa klien dengan ramah
·         Perkenalkan diri dengan sopan
·         Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan
·         Jelaskan tujuan pertemuan
·         Jujur dan menepati janji
·         Tunjukkan sikap empati & menerima klien apa adanya
·         Perhatikan kebutuhan dasar klien


2.      Klien dapat mengidentifikasi aspek pisitif dan kemampuan yang dimiliki
Setelah…X interaksi klien menyebutkan :
·         Aspek positif dan kemampuan yang dimiliki klien
·         Aspek positif keluarga
·         Aspek positif lingkungan klien
1.      Diskusikan dengan klien tentang :
·         Aspek positif yang dimiliki klien, keluarga, lingkunagn
·         Kemampuan yang dimiliki klien
2.      Bersama klien buat daftar tentang :
·         Aspek positif klien, keluarga,&lingkungan
·         Kemampuan yang dimiliki klien
3.      Beri pujian yang realistic, hindarkan memberi penilaian negatif


3.      Klien dapat menilai kemampuan yang dimiliki untuk dilaksnakan
Setelah …X interaksi klien menyebutkan kemampuan yang dapat dilaksanakan
1.      Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan
2.      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya


4.      Klien dapat merenccanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Setelah …X interaksi, klien dapat membuat rencana kegiatan harian
1.      Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan kemampuan klien :
·         Kegiatan mandiri
·         Kegiatan dengan bantuan
2.      Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien
3.      Beri contoh cara pelaksanaan kegiata yang dapat klien lakukan


5.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai rencana yang dibuat
Setelah …X interaksi klien melakukan kegiatan sesuai jadwal yang dibuat
1.      Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan
2.      Pantau kegiatan yang dilakukan klien
3.      Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien
4.      Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang


6.      Klien dapat memanfaatkan obat dengan benar
1.      Setelah…X interaksi, klien dapat menyebutkan :
·         Manfaaat minum obat
·         Kerugian tidak minum obat
·         Nama, warna, dosis, efek saping, dan efek terapi obat
2.      Setelah …X interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar
3.      Setelah …X interaksi klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter
1.      Diskusikan dengan klien manfaat dan kerugian tidak minumobat, nama warna,  dosis, efek samping, dan prosedur penggunaan obat
2.      Pantau klien saat mengonsumsi obat
3.      Diskusikan akibat klien berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
4.      Anjurkan klien untuk konsutasi kepada dokter atau perawat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan 
2
Isolasi Sosial
TUM:
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
TUK :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya

Setelah …X interaksi, klien menunjukkan tanda-tanda percaya terhadap perawat
1.      Bina hubungan saling percaya
·         Beri salam setiap interaksi
·         Perkenalkan nama panjang dan nama panggilan perawat dan tujuan perawat berkenalan
·         Tanya dan panggil nama klien
·         Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
·         Buat kontrak yang jelas
·         Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien


2.      Klien mampu menyebutkan penyebab manarik diri
Setelah …X ineraksi klien dapat menyebutkan minimal satu penyebab menarik diri
·         Diri sendiri
·         Orang lain
·         Lingkungan
1.      Tanyakan klien tentang :
·         Orang yang tinggal serumah atau teman sekamar
·         Orang yang paling dekat dengan klien dirumah atau diruang perawatan
·         Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut
·         Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain
2.      Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain
3.      Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya


3.      Klien mampu menyebutkan keuntungan berhuabungn social dan kerugian menarik diri
Setelah …X interaksi klien dapat menyebutkan keuntunagn berhubungan social misalnya :
·         Banyak teman
·         Tidak kesepian
·         Bisa diskusi
·         Saling menolong
Kerugian menarik diri
·         Sendiri
·         Kesepian
·         Tidak bias diskusi
1.      Tanyakan pada klien tentang :
·         Manfaat berhubungan social
·         Kerugian menarik diri
2.      Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan social dan kerugian menarik diri
3.      Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya


4.      Klien dapat melaksanakan hubungan social secara bertahap
Setelah …X interaksi, klien dapat melaksanakan hubungan bertahap dengan :
·         Perawat
·         Klien lain
·         Kelompok
1.      Observasi perilaku klien saat berhubungan social
2.      Beri motivasi dan bantu klien berkenalan dengan :
·         Perawat
·         Klien lain
·         Kelompok
3.      Libatkan klien dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
4.      Diskusikan jadwal harian yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan klien
5.      Beri pujian terhadap kemampuan klien untuk memperluas pergaulannya


5.      Klien mampu menyebutkan perasaannya setelah berhbungan sosial
Setelah …X interaksi  klien dapat megungkapkan perasaannya setelah berhubungan social dengan :
·         Orang lain
·         Kelompok
1.      Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan social dengan orang lain dan kelompok
2.      Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya


6.      Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial
Setelah…X pertemuan, keluarga dapat menjelaskan tentang :
·         Pengertian menarik diri
·         Tanda dan gejala menarik diri
·         Penyebab dan akibat menarik diri
Setelah …X pertemuan, keluarga dapat mempraktikan cara merawat klien menarik diri
1.      Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri
2.      Diskusikan potensi kaluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri
3.      Jelaskan pada keluarga tentang :
·         Pengertian menarik diri
·         Tanda dan gejala menarik diri
·         Penyebab dan akibat menarik diri
·         Cara merawat klien menarik diri
4.      Latih keluarga cara merawat klien menarik diri
5.      Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatih
6.      Beri motivasi keluarga untuk membantu klien bersosialisasi
7.      Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien
















D.    Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
No.
DX KEP
PASIEN
KELUARGA
1
Harga Diri Rendah
SP I p
1.      Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien
2.      Membantu pasien menilai kemampuan yang masih dapat digunakan
3.      Membantu pasien memilih kegiatan yang akan dilatih sesuai dengan kemampuan
4.      Melatih pasien sesuai dengan kemamppuan yang dipilih
5.      Memberikan pujian yang wajar terhadap keberhasilan pasien
6.      Menganjurkan pasien memasukkannya dalam jadwal kegiatan harian
SP II p
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Melatih kemampuan kedua
3.      Menganjurkan pasien memasukkannya kedalam jadwal kegiatan harian
SP III p
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Melatih kemampuan ketiga
3.      Menganjurkan pasien memasukkannya kedalam jadwal harian
SP I k
1.      Mendiskusikan masaalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2.      Menjelaskan pengertian, tanda, dan gejala harga diri rendah yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3.      Menjelaskan cara-cara merawat pasien harga diri rendah
SP II k
1.      Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan harga diri rendah
2.      Melatih keluarga melakukancara merawat langsung kepada pasien harga diri rendah
SP III k
1.      Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat
2.      Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
2
Isolasi sosial
SP I p
1.      Mengidentifikasi penyebab isolasi social pasien
2.      Berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
3.      Berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4.      Mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang
5.      Menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang-bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian
SP II p
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang
3.      Membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
SP III p
1.      Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.      Memberikan kesempata berkenalan dengan dua orang atau lebih
3.      Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
SP I k
1.      Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2.      Menjelaskan pengertian, tanda, dan gejala isolasi social yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3.      Menjelaskan cara merawat pasien isolasi social
SP II k
1.      Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan isolasi social
2.      Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien isolasi social
SP III k
1.      Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat
2.      Menjelaskan follow up pasien setelah pulang















BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak dapat bertanggung jawab pada kehidupannya sendiri.
2.      Masalah keperawatan yang muncul pada kasus ini adalah :
a.       Gangguan konsep diri ; harga diri rendah
b.      Isolasi sosial
c.       Defisit perawatan diri


B.     Saran
1.      Bagi Perawat
Diharapkan bagi perawat agar meningkatkan keterampilan dalam memberikan praktik asuhan keperawatannya, serta pengetahuannya pada pasien dengan Harga Diri Rendah, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal dan dapat menjadi edukator bagi klien maupun keluarganya.
2.      Bagi Mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa dengan adanya makalah ini dapat membantu dalam dalam pembuatan asuhan keperawatan.
3.      Bagi Dunia Keperawatan
Diharapkan asuhan keperawatan ini dapat terus ditingkatkan kekurangannya sehingga dapat menambah pengetahuan yang lebih baik bagi dunia keperawatan, serta dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi dalam keperawatan.








Daftar Pustaka

Ahmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. EGC. Jakarta

Anonim. 2013. http://www.wordpress.hargadirirendah.com (2 April 2013)

Carpenito, L. 2008. Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis (terjemahan). EGC. Jakarta

Dalami,W. 2009. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Jiwa. Tiras Info Medika: Jakarta.

FKUI dan WHO. 2006. Modul Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. (MPKP Jiwa). FKUI&WHO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar