BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Karsinoma bronkogenik adalah tumor
maligna yang timbul dari epitelium bronkial. Angka bertahan hidupnya adalah
rendah karena menyebar ke limfatik regional sampai saat terdiagnosa. Empat tipe
sel utama dari kanker paru termasuk karsinoma epidermoid (sel skuamosa),
karsinoma sel kecil (sel oat), adenokarsinoma dan karsinoma sel besar. Banyak
tumor mengandung lebih dari satu tipe sel; pendekatan pengobatan yang berbeda
mungkin ditandai oleh tipe selnya. Tahap dari tumor mengacu pada luasnya tumor
secara anatomi, penyebaran pada nodus limfe regional dan penyebaran metastasis.
Prognosis tampak lebih baik pada karsinoma epidermoid dan adenokarsinoma; tumor
sel kecil (sel oat) tak terbedakan mempunyai prognosi yang buruk. Faktor-faktor
resiko termasuk merokok, perokok pasif, polusi udara, pemajanan di tempat
pekerjaan (okupasional) dan defisiensi vitamin A. Faktor-faktor lainnya
termasuk predisposisi genetik dan penyakit pernafasan lainnya, misal: TBC
(Baughman, 2000).
Kanker paru merupakan Kanker
pembunuh nomer satu pada pria dan wanita di Amerika Serikat (>177.000 kasus
dan 159.000 kematian ditahun 1999) dan di dunia.Kematian akibat kanker paru
pada penduduk Amerika keturunan Afrika dan wanita terus meningkat; wanita di Amerika
Serikat memiliki insiden kanker paru tertinggi diantara semua wanita di dunia,
Insiden tertinggi pada pria berusia > 70 tahun dan wanita berusia 50-60
tahun, beberapa resiko jelas yang dapat diturunkan; saudara derajat pertama
yang merokok memiliki peningkatan risiko 2,5 kali lipat dibanding yang tidak
memiliki riwayat keluarga: 80% sampai 90% kanker paru disebabkan oleh asap
rokok.
Kanker paru lebih sering dijumpai
menyerang pria dibandingkan dengan wanita.Umumnya, kanker menyerang mereka yang
berumur lebih dari 40 tahun.Berdasarkan data statistik yang ada, 90% kanker
paru-paru menyerang kaum pria.Penyebab utama kanker ini adalah merokok. Lebih
banyak asap rokok yang diisap, lebih besar risiko terkena kanker paru-paru.
Hanya sekitar 15% pria terjangkit kanker paru-paru yang bukan
perokok.Kemungkinan hal ini disebabkan oleh zat-zat tertentu seperti arsen dan
klorometil eter yang terhisap bersama oksigen.Selain itu, ada pula penderita
kanker paru-paru yang sebelumnya menderita penyakit paru-paru lainnya, seperti
tuberkulosis dan fibrosis.Penyebab kematian penderita kanker paru-paru biasanya
bukan kesulitan bernafas, tetapi karena posisi paru-paru dalam sistem peredaran
darah menyebabkan kanker mudah menyebar ke organ vital lainnya. Penyebaran ini
akan menyebabkan terganggunya fungsi organ vital tersebut dan menyebabkan
kematian.
Kanker paru merupakan jenis
kanker yang paling mudah dicegah, meskipun data menunjukkan bahwa kanker ini
merupakan kanker pembunuh terbesar. Hampir 90% kanker paru-paru mengakibatkan kematian
dan 30% orang yang meninggal akibat kanker adalah penderita kanker paru-paru.
Pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya dengan menjauhi asap rokok, baik
perokok aktif atau perokok pasif, karena asap rokok mengandung karsinoma yang
paling aktif, hidup di lingkungan yang sehat dan terbebas dari polusi udara,
dan membiasakan diri mengkonsumsi makanan bergizi serta berserat (Mangan,
2009).
B.
Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari Karsinoma
Paru?
2. Apa saja etiologi Karsinoma Paru?
3. Bagaimana Patofisiologi Karsinoma
Paru?
4. Apa saja Manifestasi klinis
Karsinoma Paru?
5. Apa saja Pemeriksaan penunjang
Karsinoma Paru?
6. Apa saja Penatalaksanaan yang
diberikan untuk pasien Karsinoma Paru?
7. Bagaimana Pencegahan Karsinoma
Paru?
8.Apa saja asuhan keperawatan yang
diberikan pada pasien Karsinoma paru?
C.
Tujuan
- Tujuan Umum:
Menjelaskan
asuhan keperawatan dengan klien kanker paru
2. Tujuan Khusus:
- Menjelaskan konsep dasar dari penyakit kanker paru
- Menjelaskan definisi dari penyakit kanker paru
- Menjelaskan etiologi dari penyakit kanker paru
- Menjelaskan patofisiologi kanker paru
- Menjelaskan Stadium kanker paru
- Menjelaskan manifestasi klinis kanker paru
- Menjelaskan pemeriksaan diagnostik dan penatalaksanaan pada kanker paru
- Menjelaskan komplikasi pada kanker paru
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Karsinoma
Bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran nafas. Di
dalam kepustakaan selalu di laporkan peningkatan insiden kanker paru secara progresif,
yang bukan hanya sebagai akibat peningkatan umur rata-rata manusia serta
kemampuan diagnostik yang lebih baik namun oleh karena memang karsinoma
bronkogenik lebih sering terjadi (Pengatar Ilmu Penyakit paru).
Karsinoma
bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran napas (
Hood Al sagaff, dkk 1993 ).
Kanker
paru adalah tumor berbahaya yang tumbuh diparu, sebagian besar kanker paru
berasal dari sel-sel didalam paru tapi dapat juga berasal dari bagian tubuh
lain yang terkena kanker. ( Zerich 150105 Weblog, by Erich )
Karsinoma
bronkogenik atau kanker paru dapat berupa metastasis atau lesi primer. Tumor
ganas dapat ditemukan di bagian tubuh mana saja. Metastasis pada kolon dan
ginjal merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan di klinik, keduanya
dapat menyebabkan tumor paru. Metastasis tumor paru sering ditemukan terlebih
dahulu sebelum lesi primernya diketahui. Hal yang berbahaya adalah pada keadaan
klinis lokasi lesi primer sering tidak diketahui selama hidup klien (Muttaqin,
2007).
Kanker
paru adalah abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru
(underwood, patologi, 2000)
Kanker
paru adalah tumbuhnya keganasan yang berasal dari sel efitel dan sistem
pernapasan bagian bawah yang bersifat efitelia serta berasal dari mukosa
percabangan broncus ( sylvia,1995:843 )
Kanker
paru adalah tumor paru ganas primer yang berasal dari saluran nafas ( Taprani
1996:234 )
Kanker
paru merupakan keganasan pada jaringan paru (price, patofisiologi, 1995)
Jadi, dari
beberapa pengertian di atas dapat disimpilkan kanker paru merupakan
abnormalitas dari sel-sel yang mengalami proliferasi dalam paru dan tumbuhnya
keganasan yang berasal dari sel epitel.
B. Etiologi
Seperti kanker
pada umumnya, etiologi yang pasti dari karsinoma bronkogenik masih belum
diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan
karsinogenik merupakan faktor utama, tanpa mengesampingkan kemungkinan peranan
predisposisi hubungan keluarga ataupun suku bangsa/ras serta status
immunologis. Bahan inhalasi karsinogenik yang banyak disorot adalah rokok.
1.
Pengaruh rokok:
Bahan-bahan
karsinogenik dalam asap rokok adalah antara lain : polomium 210 dan 3,4
benzypyrene. Penggunaan filter dikatakan dapat menurunkan resiko terkenanya
karsinoma bronkogenik, namun masih tetap lebih tinggi dibanding dengan bukan
perokok.
Didalam
jangka panjang yaitu, 10-20 tahun, merokok:
1-10 batang / hari meningkatkan resiko
15 kali
20-30 batang / hari meningkatkan resiko
40-50 kali
40-50 batang /hari meningkatkan resiko
70-80 kali.
2. Pengaruh Industri
Yang paling banyak dihubungkan dengan
karsinogenik adalah asbestos, yang dinyatakan meningkatkan resiko kanker 6-10
kali. Menyusul kemudian industri bahan-bahan radioaktif, penambang uramium
mempunyai resiko 4 kali populasi pada umumnya. Paparan industri ini baru nampak
pengaruhnya setalah 15-20 tahun.
3. Pengaruh Penyakit Lain
Tuberkulosi paru banyak dikaitkan
sebagai faktor predisposisi karsinoma brinkogenik, melalui mekanisme hyperplasi
– metaplasi - karsinoma insitu-karsinoma - bronkogenik sebagai akibat adanya
jaringan parut tuberkulosis.
4.
Pengaruh Genetik dan Status
imunologis
Pada tahun 1954, Tokuhotu dapat
membuktikan adanya pengaruh keturunan yang terlepas daripada faktor paparan
lingkungan, hal ini membuka pendapat bahwa karsinoma bronkogenik dapat
diturunkan. Penelitian akhir-akhir ini condong bahwa faktor yang terlibat
dengan enzim Aryl Hidrokarbon Hidroksilase (AHH). Status immonologis penderita
yang dipantau dari cellular mediated menunjukan adanya korelasi antara derajat
deferensiasi sel, stadia penyakit, tanggapan terhadap pengobatan serta
prognosis. Penderita yang energi umumnya tidak memberikan tanggapan terhadap
pengobatan dan lebih cepat meninggal.
5. Radiasi.
Insiden
karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang
radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan
dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan
agen etiologi operatif.
6.
Polusi Udara
Mereka yang tinggal di kota
mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di
desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap
diesel dalam atmosfer di kota. (
Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997).
C. Patofisiologi
Dari
etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia.
Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia
menembus ruang pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi
langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang
bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus
dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal. Gejala – gejala yang timbul
dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu, demam, dan dingin.Wheezing unilateral
dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan
biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru dapat
bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar limfe, dinding
esofagus, pericardium, otak, tulang rangka.
Sebab-sebab
keganasan tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor
hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan resiko terjadinya tumor.
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat intiation
yang merangasang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan
yang lama dan berkesinambungan untuk memicu timbulnya penyakit tumor.
Initiati
agen biasanya bisa berupa nunsur kimia, fisik atau biologis yang berkemampuan
bereaksi langsung dan merubah struktur dasar dari komponen genetik ( DNA ).
Keadaan selanjutnya diakibatkan keterpaparan yang lama ditandai dengan
berkembangnya neoplasma dengan terbentuknya tumor, hal ini berlangsung lama
meingguan sampai tahunan.
Kanker
paru bervariasi sesuai tipe sel daerah asal dan kecepatan pertumbuhan. Empat
tipe sel primer pada kanker paru adalah karsinoma epidermoid ( sel skuamosa ).
Karsinoma sel kecil ( sel oat ), karsinoma sel besar ( tak terdeferensiasi )
dan adenokarsinoma. Sel skuamosa dan karsinoma sel kecil umumnya terbentuk di
jalan napas utama bronkial. Karsinoma sel kecil umumnya terbentuk dijalan napas
utama bronkial. Karsinoma sel besar dan adenokarsinoma umumnya tumbuh dicabang
bronkus perifer dan alveoli. Karsuinoma sel besar dan karsinoma sel oat tumbuh
sangat cepat sehigga mempunyai progrosis buruk. Sedangkan pada sel skuamosa dan
adenokar. Paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut dan letaknya di
dalam rongga dada atau toraksinoma prognosis baik karena pertumbuhan sel ini
lambat.
D.
Manifestasi Klinis
Menurut Sudoyo
(2007), pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukkan gejala-gejala
klinis. Bila sudah menampakkan gejala berarti pasien dalam stadium lanjut.
Gejala-gejala
dapat bersifat :
1.
Lokal
(tumor tumbuh setempat) :
Batuk
baru atau batuk lebih hebat pada batuk kronis.
Hemoptisis
Mengi
(wheezing, stridor) karena ada obstruksi saluran napas
Kadang
terdapat kavitas seperti abses paru
Atelektasis
2.
Invasi
lokal:
Nyeri
dada
Dispnea
karena efusi pleura
Invasi
ke perikardium —> terjadi tamponade atau aritmia
Sindrom
vena cava superior
Sindrom
Horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
Suara
serak, karena penekanan pada nervus laryngeal recurrent
Sindrom
Pancoast, karena invasi pada pleksus brakialis dan saraf simpatis servikalis.
3.
Gejala
Penyakit Metastasis :
Pada
otak, tulang, hati, adrenal
Limfadenopati
servikal dan supraklavikula (sering menyertai metastasis)
4.
Sindrom
Paraneoplastik : Terdapat pada 10% kanker paru, dengangejala:
Sistemik:
penurunan berat badan, anoreksia, demam
Hematologi:
leukositosis, anemia, hiperkoagulasi, hipertrofi osteoartropati, Neurologik :
dementia, ataksia, tremor, neuropati perifer, neuromiopati
Endokrin:
sekresi berlebihan hormon paratiroid (hiperkalsemia)
Dermatologik
: eritema multiform, hiperkeratosis, jari tabuh
Renal:
syndrome of inappropriate andiuretic hormone (SIADH)
5.
Asimtomatik
dengan kelainan radiologis
Sering
terdapat pada perokok dengan PPOK/COPD yang terdeteksi secara radiologis
Kelainan
berupa nodul soliter
Menurut
Alsagaff dan mukty (2002)
Manifestasi
klinis karsinoma bronkogenik dibagi menjadi 4, yaitu:
- Gejala intrapulmonal
Merupakan
gejala lokal yang disebabkan oleh tumor di paru. Terjadi karena ada gangguan
pergerakan silia serta ulserasi bronkus, sehingga memudahkan terjadinya radang
berulang. Keluhan batuk lebih dari 2 minggu. K eluhan batuik terdapat pada
70-90% kasus. Batuk darah sebagai akibat ulserasi terjadi pada 6-51% kasus.
Disamping batuik, keluhan lain adalah nyeri dada, yang bersifat : kemeng atau nyeri
tumpul sering unilateral.
- Gejala intratorasik ekstrapulmoner
Penyebaran
tumor ke mediastinum akan menekan/merusak struktur-struktur di dalam
mediastinum dengan akibat antara lain :
1.
N.
Phrenicus : parase/paralise diafragma
2.
N.
Recurrens : parase/paralise korda vokalis
3.
Saraf
simpatik : sindroma horner: enoftalmus, miosis, ptosis, dan anhidrosis
4.
Esofagus:
disfagi
5.
Vena
kava superior: sindroma vena kava superior yang terjadi karena bendungan pada
vena cava superior disertai pembengkakan muka dan lengan
6.
Trakea/bronkus:
sesak, oleh karena atelektasis lokal
7.
Jantung
: gangguan fungsional, terjadi efusi perikardial
8.
Gejala
ekstrapulmonal non metastasik
Dapat
dibagi atas:
1.
Manifestasi
neuromuskuler
Mempunyai
insiden sebesar 4-15%, biasanya berupa “neuropatia karsinomatosa” terutama
didapatkan pada kasus lanjut. Bersifat progresif serta paling sering ditemukan
pada karsinoma sel kecil. Sindroma neuropatia karsinomatosa terdiri dari
miopatia, neuropatia perifer, degenerasi serebeler subakut, ensefalomiopatia dan
mielopati nekrotik
2.
Manifestasi
jaringan ikat dan tulang
Manifestasi
yang paling terkenal adalah hypertropic pulmonary osteoarthropathy, terutama
didapatkan pada karsinoma epidermoid, dan dikatakan belum pernah ditemukan pada
karsinoma sel kecil. Kelainan ini dihubungkan dengan peningkatan kadar human
growth hormon yang imunoreaktif di dalam plasma. Secara radiologik
didapatkan pembentiukan tulang baru sub periosteal, terutama tulang-tulang
ekstremitas bagian distal, yaitu jari tabuh.
3.
Manifestasi
vaskuler dan hematologik
Tidak
begitu sering didapatkan, sering dalam bentuk migratory trhomboplebitis, purpura
dan anemia
4.
Gejala
ekstratorasik metastasik
Karsinoma
bronkogenik adalah satu-satunya tumor yang mampu berhubungan langsung dengan
sirkulasi arterial, sehingga kanker tersebut dapat menyebar hampir ke semua
organ, terutama otak, hati dan tulang
Stadium Klinis Kanker Paru:
STADIUM
|
TNM
|
|
Karsinoma tersembunyi
|
Tx, N0,
M0
|
Spuntum mengandung sel-sel
ganas tetapi tidak dapat dibuktikan adanya tumor primer atau metastasis
|
Stadium 0
|
Tis, N0, M0
|
Karsinoma in situ
|
Stadium
IA
|
T1, N0, M0
|
Tumor termasuk T1 tanpa adanya
bukti metastasis pada kelenjar getah bening regional atau tempat yang jauh
|
Stadium
IB
|
T2, N0, M0
|
Tumor termasuk klasifikasi T2
dengan bukti metastasis pada kelenjar getah bening regional atau tempat yang
jauh
|
Stadium IIA
|
T1, N1, M0
|
tumor termasuk klasifikasi T1
dengan bukti hanya terdapat metastasis ke peribrokial ipsilateral atau hilus
kelenjar limfe ; tidak ada metastasis ke tempat yang jauh
|
Stadium
IIB
|
T2, N1, M0 atau T3, N0, M0
|
tumor termasuk klasifikasi T2 atau
T3 dengan atau tanpa bukti metastasis ke peribronkial ipsilateral atau hilus
kelenjar limfe ; tidak ada metastasis ke tempat yang jauh
|
Stadium
IIIA
|
T3, N1, M0 atau T1-3,
N2, M0
|
tumor termasuk klasifikasi T1, T2,
atau T3 dengan atau tanpa bukti adanya metastasis ke peribronkial
|
Stadium
IIIB
|
T berapa pun, N3, M0 atau T4, N
berapa pun, M0
|
tumor dengan metastasis hilus
kontralateral atau kelenjar getah bening mediastinum atau ke skalenus atau
kelenjar limfe supraklafikular ; atau setiap tumor yang diklasifikasikan
sebagai T4 dengan atau tanpa metastasis ke kelenjar getah bening regional ;
tidak ad metastasis ke tempat yang jauh
|
Stadium IV
|
T berapa pun, N berapa pun, M1
|
Keterangan
:
Status Tumor Primer (T)
T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer.
Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi.
Tis : Karsinoma in situ.
T1 : Tumor berdiameter ≤ 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis yang normal.
T2 : Tumor berdiameter > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus; harus berjarak > 2 cm distal dari karina.
T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus utama yang terletak 2 cm dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra.
T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang disertai efusi pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama pada tumor primer.
Status Tumor Primer (T)
T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer.
Tx : Kanker yang tersembunyi terlihat pada sitologi bilasan bronkus, tetapi tidak terlihat pada radiogram atau bronkoskopi.
Tis : Karsinoma in situ.
T1 : Tumor berdiameter ≤ 3 cm dikelilingi paru atau pleura viseralis yang normal.
T2 : Tumor berdiameter > 3 cm atau ukuran berapa pun yang sudah menyerang pleura viseralis atau mengakibatkan ateletaksis yang meluas ke hilus; harus berjarak > 2 cm distal dari karina.
T3 : Tumor ukuran berapa saja yang langsung meluas ke dinding dada, diafragma, pleura mediastinalis, dan perikardium parietal atau tumor di bronkus utama yang terletak 2 cm dari distal karina, tetapi tidak melibatkan karina, tanpa mengenai jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, atau korpus vertebra.
T4 : Tumor ukuran berapa saja dan meluas ke mediastinum, jantung, pembuluh darah besar, trakea, esofagus, korpus vertebra, rongga pleura/perikardium yang disertai efusi pleura/perikardium, satelit nodul ipsilateral pada lobus yang sama pada tumor primer.
Keterlibatan Kelenjar Getah Bening Regional (N)
N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional.
N1 : Metastasis pada peribronkial dan/atau kelenjar hilus ipsilateral
N0 : Tidak dapat terlihat metastasis pada kelenjar getah bening regional.
N1 : Metastasis pada peribronkial dan/atau kelenjar hilus ipsilateral
N2
: Metastasis pada mediastinal ipsilateral atau kelenjar getah bening subkarina.
N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar getah bening hilus kontralateral; kelenjar getah bening skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.
N3 : Metastasis pada mediastinal atau kelenjar getah bening hilus kontralateral; kelenjar getah bening skalenus atau supraklavikular ipsilateral atau kontralateral.
Metastasis Jauh M)
M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh.
M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak
M0 : Tidak diketahui adanya metastasis jauh.
M1 : Metastasis jauh terdapat pada tempat tertentu misalnya otak
E. Pemeriksaan
Penunjang
Radiologi.
1)
Foto Thorax Posterior-Anterior (PA) dan lateral serta Tomografi dada.
Merupakan
pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru.
Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada
bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2)
Bronkhografi.
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
Laboratorium.
1)
Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).
Dilakukan untuk mengkaji adanya/ tahap karsinoma.
2)
Pemeriksaan fungsi paru dan GDA
Dapat dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk memenuhi
kebutuhan ventilasi.
3)
Tes kulit, jumlah absolute limfosit.
Dapat
dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi imun (umum pada kanker paru).
Histopatologi.
1)
Bronkoskopi.
Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan
sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
2)
Biopsi Trans Torakal (TTB).
Biopsi
dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm,
sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
3)
Torakoskopi.
Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih
baik dengan cara torakoskopi.
4)
Mediastinosopi.
Umtuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah
bening yang terlibat.
5)
Torakotomi.
Totakotomi
untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam-macam prosedur non
invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
Pencitraan.
1)
CT-Scanning, untuk mengevaluasi jaringan parenkim paru dan pleura.
2)
MRI, untuk menunjukkan keadaan mediastinum.
F. Komplikasi
1. Esofagitis,hilang
1 minggu sampai dengan 10 hari sesudah pengobatan.
2. Pneumonitis,pada
rontgent terlihat bayangan eksudat didaerah penyinaran
G. Penatalaksanaan Medis
Tujuan pengobatan kanker dapat berupa :
1) Kuratif
Memperpanjang masa bebas penyakit dan meningkatkan angka
harapan hidup klien.
2) Paliatif.
Mengurangi
dampak kanker, meningkatkan kualitas hidup.
3) Rawat
rumah (Hospice care) pada kasus terminal.
Mengurangi dampak fisis maupun psikologis kanker baik pada
pasien maupun keluarga.
4)
Supotif.
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia
pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti
infeksi.
(
Ilmu Penyakit Dalam, 2001 dan Doenges, Rencana Asuhan Keperawatan, 2000
1. Penatalaksanaan
Nonbedah
a.Terapi Oksigen
Jika terjadi hipoksemia perawat dapat memberikan oksigen
via masker/ nasal
kanula sesuai dengan permintaan.
b.Terapi Obat
Jika klien
mengalami bronkospasme dokter dapat memberikan obat golongan bronkodilator (seperti pada klien asma)dan
kartikosterid untuk mengurangi bronkospasme,inflamasi dan edema.
c.Kemoterapi
kemoterapi
merupakan pilihan pengobatan pada klien dengan kanker paru,terutama pada small
cell ling cancer karena metastasis.kemoterapi dapat juga digunakan bersamaan
dengan terapi bedah
obat-obat
kemoterapi yang biasanya diberikan untuk menangani kanker,tumor,termasuk
kombinasi dari obat-obat tersebut.
· Cyclophosphamide,deoxorubicin,methotrexate,dan
procarbazine
· Etoposidedan cisplatin
· Mitomycin,vinblastine,dan cisplatin.
d.Imunoterapi
Banyak klien
kanker paru mengalami gangguan imun. Obat imunoterapi
(cytokin) biasa di berikan.
e.Terapi Radiasi
Terapi
dilakukan dengan indikasi sebagai berikut :
- Klien tumor paru yang operable tetapi risiko
jika dilakukan pembedahan
- Klien adenokarsinoma / sel skuomosa
inoperable yang mengalami pembesaran
- Kelenjar getah bening pada hilus ipsilateral
dan mediastinal.
- Klien dengan Ca.
Bronkus dengan oat cell.
- Klien kambuhan
sesudah lobektomi atau pneumonektomi.
2.
Penatalaksanaan Pembedahan.
Tujuan pada
pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua
jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –
paru yang tidak terkena kanker.
a. Toraktomi
eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
b. Pneumonektomi
pengangkatan paru)
.Karsinoma
bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
c. Lobektomi
(pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
d. Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
e. Resesi baji.
STumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es).
STumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es).
f. Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Riwayat kesehatan sekarang :
Apa yang diderita pasien misalnya
nyeri pada dada , dan sesak nafas.
3. Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah dahulu pasien mempunyai
penyakit paru obstruksi menahun
4. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah keluarganya ada yang menderita penyakit paru
Apakah keluarganya ada yang menderita penyakit paru
5.
ADL (activity dialy lifing )
1) Aktivitas/ istirahat.
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin, dispnea
1) Aktivitas/ istirahat.
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin, dispnea
karena aktivitas.
Tanda : Kelesuan (biasanya tahap lanjut).
2) Sirkulasi.
Gejala : JVD (obstruksi vana kava).
Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).
Takikardi/ disritmia.Jari tabuh.
3) Integritas ego.
Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahan, menolak kondisi yang berat/
Tanda : Kelesuan (biasanya tahap lanjut).
2) Sirkulasi.
Gejala : JVD (obstruksi vana kava).
Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).
Takikardi/ disritmia.Jari tabuh.
3) Integritas ego.
Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahan, menolak kondisi yang berat/
potensi keganasan.
Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.
4) Eliminasi.
Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).
Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor
Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.
4) Eliminasi.
Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).
Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor
epidermoid)
5) Makanan/ cairan.
Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukan makanan.
Kesulitan menelan, haus/ peningkatan
masukan cairan.
Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)
Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital
Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)
Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital
(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
6) Nyeri / kenyamanan.
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap
Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
6) Nyeri / kenyamanan.
Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap
lanjut) dimana dapat/ tidak dapat
dipengaruhi oleh perubahan posisi. Nyeri bahu/
tangan (khususnya pada sel besar atau
adenokarsinoma) Nyeri abdomen hilang
timbul.
7) Pernafasan.
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau produksi
7) Pernafasan.
Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atau produksi
sputum. Nafas pendek, pekerja yang
terpajan polutan, debu industry, Serak,
paralysis pita suara.
Riwayat merokok
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja
Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)
Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi
Riwayat merokok
Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerja
Peningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)
Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi
menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi). Hemoptisis.
8) Keamanan.
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)
Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
9) Seksualitas.
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel besar)
8) Keamanan.
Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)
Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
9) Seksualitas.
Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma sel besar)
Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan
hormonal, karsinoma sel kecil).
10) Penyuluhan.
Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis, Kegagalan
10) Penyuluhan.
Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosis, Kegagalan
untuk membaik.
B. Diagnosa Keperawatan yang muncul
adalah
1.
Bersihan jalan nafas tidak efektif,
b/d peningkatan jumlah/perubahan mukus /viskositas
sekret, keterbatasan gerakan dada, /nyeri,
kelemahan,kelelahan.
2.
Nyeri akut b/d invasi kanker ke
pleura, dinding dada.
3.
Pola pernafasan tidak efektif b/d obstruksi
trakeobronkialoleh sekret, perdarahan aktif, penurunan ekspansi paru, proses
inflamsi.
4.
Kerusakan pertukaran gas b/d
gangguan aliran udara ke alveoli atau ke bagian utama paru, perubahan
membran alveoli ( atelektasis , edema paru , efusi, sekeresi
berlebihan,/perdarahan aktif.
5.
Ansietas b/d
ketakutan /ancaman akan kematian , tindakan diagnostik, penyakit kronis.
6.
Nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh b/d intake inadekuat, peningkatan metabolisme,
proses keganasan.
C. Perencanaan Keperawatan
1. Diagnosa : Bersihan Jalan nafas
tidak efektif b/d peninjkatan jumlah/viskositas secret, keterbatasan gerakan
dada/nyeri, kelemahan/kelelahan
· Tujuan : Bersihan jalan
nafas efektif.
Kriteria ;
a. Menunjukan potensi jalan
nafas.
b. Cairan sekret mudah
dikeluarkan/dibatukan.
c. Bunyi nafas jelas.
d. Whezing(-)/berkurang
Intervensi
1. Auskultasi
bunyi dada, untuk karakter bunyi nafas dan adanya sekret.
2. Bantu untuk
nafas dalam efektif anjurkan batuk dengan posisi duduk.
3. Observasi jumlah dan karakter
sputum/aspirasi sekret.
4. Lakukan penghisapan dengan menggunakan
suction. Bila klien tidak dapat
batuk.
5. Dorong
masukan cairan/oral sedikitnya 2500 CC/hari dalam toleransi jantung.
6. Kolaborasi : Berikan/bantu dengan IPBB ,
spirometri, meniup botol
7. Gunakan oksigen humidifikasi/nebulizer ultrasonik .
Berikan cairan
tambahan
melalui IV sesuai indikasi.
8. Berikan
bronkodilator, ekspektoran, atau analgetik sesuai indikasi.
· Rasional
1. Pernafasan
bising, ronki, mengi menunjukan tertahannya sekret/obstruksi
jalan nafas.
2. Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru
maksinal, upaya batuk untuk membuang sekret
3. Perubahan
sekret menunjukan progresifitas penyakit.
4.
Penghisapan dapat merangsang batuk efektif.
5. Hidrasio adekuat untuk mempertahankan sekret
hilang/peningkatan
pengeluaran.
6. Memudahkan
pembuangan sekret.
7. Memberikan hidrasi maksimal/pengenceran
sekret untuk pengeluaran
2.
Diagnosa: Kerusakan pertukaran gas b/d gg. Aliran udata ke
alveoli, perubahan membran
alveolar kapiler ( atelektasis, oedema paru, efusi, sekresi berlebihan,
perdarahan
aktif)
·
Tujuan: Pertukaran gas efektif.
Kriteria : GDA
dalam batas normal,. Mebubjukan ventilasi adekuat Menunjukan oksigenasi
adekuat.Menunjukan perbaikan distress
pernafasan.
·
Intervensi
1. Catat frekluensi dan kedalaman
pernafasan , penggunaan otot bantu dan nafas bibir.
2. Auskultasi paru untuk penurunan
bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan krekels.
3. Observasi ferfusi daerah akral
dan sianosis ( daun telinga, bibir, lidah dan membran lidah )
4. Lakukan
tindakan untuk memperbaiki jalan nafas.
5. Tinggikan
kepala/tempat tidur sesuai dengan kebutuhan.
6. Awasi tanda
vital
7. Kaji tingkat
kesadaran
8. Kaji toleransi
aktivitas.
9. Kolaborasi:
10. Awasi seri GDA.
11. Berikan oksigen
dengan metoda yang tepat
· Rasional
1. Takhi[pnoe dan
dispnoe menyertai obstruksi paru.
2. Area yang tak
terventilasi dapat diidentifikasikan dengan tak adanya bunyi nafas.
3. Menunjukan
hipoksemia sistemik.
4. Jalan nafas
lengket/kolaps menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi
5. Secara negatif
mempengaruhi pertukaran gas.
6. Meningkatkan
ekspansi dada maksimal, membuat mudah bernafas meningkatkan kenyamanan.
7. Tahkikardi/takhipnoe,
dan perubahan pada TD. Terjadi seirng dengan perubahan asidosis.
8. Hipoksemia
sistemik dapat ditunjukan pertamakali oleh gelisah dan rangsang disertai
penurunan kesadaran.
10. Hipoksemia menurunkan kemampuan untuk
berpartisipasi dalam aktivitas tanpa dispnoea berat, takikardia dan disritmia.
11. Hipoksemia ada pada berbagai
derajattergantung pada jumlah obstruksi jalan nafas.
12. Memaksimalkan
sediaan oksigen untuk pertukaran gas .
3. Diagnosa: Pola nafas tidak efektif b/d obstruksi
trakeobronkial oleh bekuan darah, sekret
banyak ,peradarahan
aktif, penurunan ekspansi paru, proses inflamsi
· Tujuan: Pola nafas efektif.
Kriteria :
1. Frekuensi nafas
dalam rentang normal
2. Suara paru
jelas dan bersih.
3. Berpartisipasi dalam aktivitas
Intervensi
1. Kaji frekuensi , kedalaman
pernafasan dan ekspansi dada., catat upaya pernafasan ( penggunaan otot bantu
pernafasan )
2. Auskultasi bunyi nafas, dan catat
adanya bunyi nafas.
3. Observasi pola
batuk dan karakter sekret
4. Dorong dalam
nafas dalam.dan latihan batuk.
5. Kolaborasi:
6. Berikan oksigen
tambahan.
7. Berikan
humidifikasi tambahan.
8. Bantu
fisioterapi dada.
Rasional
1. Kedalamam
pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas., ekspansi pada terbatas
terjadi pada atelektasis.
2. Perubahan bunyi
nafas menunjukan obstruksi sekunder.
3. Kongesti
alveolar mengakibatkan batuk kering/iritatif
4. Meningktkan
banyaknya sputum.
5. Memaksimalkan
pernafasan dan menurunkan kerja nafas.
6. Memberikan
kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.
7. Memudahkan
upaya pernafasan dalam. Meningktkan drainase sekret.
4. Diagnosa: Nyeri b/d. invasi kanker ke pleura, atau
dinding dada.
Tujuan: Nyeri hilang/ berkurang
Kriteria :
1. :Klien nampak
rileks.
2. Kliuen dapat
tidur.
3. Berpartisi
dalam aktivitas.
·
Intervensi
1. Tanyakan pasien
tentang nyeri, Tentukan karaktersitik nyeri
2. Kaji
pernyataan verbal dan non verbal nyeri pasien.
3. Evaluasi
keefektifan pemberian obat
4. Berikan
tindakan kenyamanan, ubah posisi, pijatan punggung dll.
5. Berikan
lingkungan tenang.
6. Kolaborasi:
Berikan analgesik rutin s/d indikasi.
Rasional
1. Membantu dalam
evaluasi gejala nyeri kanker yang dapat melibatkan visera, saraf atau jaringan
tulang
2. Ketidaksesuaian
antara verbal dan non verbal menunjukan.derajat nyeri
3. Memberikan obat
berdasarkan aturan.
4. Meningkatkan
relaksasi dan pengalihan perhatian..
5. Penurunan
stress, menghemat energi
6. Mempertahankan
kadar obat, menghindari puncak periode nyeri..
5. Diagnosa: Ansietas b/d
ancaman kematian, proses keganasan
Tujuan: Ansietas hilang/ berkurang
Kriteria :
1. Klien tampak
rileks
2. Klien dapat
beristirahat.
3. Dapat
bekerjasama dalam terapi.
Intervensi
1. Evaluasi
tingkat pemahaman pasien/orang terdekat tentang diagnosa.
2. Akui rasa
takut, masalah pasien, dan dorong mengekspresikan perasaan.
3. Kolaborasi :
4. Libatkan
pasien/orang terdekat dalam perencanaan keperawatan
Rasional
1. Pemahaman
persepsi melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan
informasi.
2. Memberi waktu
untuk mengidentifikasi perasaan.
3. Dapat memperbaiki perasaan kontrol
6.
Diagnosa: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang, peningkatan
metabolisme proses keganasan.
Tujuan: Nutrisi
terpenuhi.
Kriteria :
1. Menunjukan
perubahan beratbadan.
2. Menunjukan
perubahan pola makan.
3. Hb. Albumin
dalam rentang normal.
Intervensi
1. Catat ststus
nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat
kekurangan berat badan
2. Pastikan pola
diet pasien yang disukai/tidak disukai
3. Awasi
pemasukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik
4. Selidiki mual,
muntah, anoreksia dan catat kemungkinan hubungannya dengan obat
5. Berikan periode
istirahat sering.
6. Berikan
perawatan mulut, sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
7. Berikan Diet
TKTP.
8. Kolaborasi :
9. Rujuk ke ahli
diet
10. Awasi pemeriksaan lab. ( BUN, protein
serum, albumin Hb.)
11. Bila perlu berikan nutrisi parenteral
· Rasional
1. Berguna dalam
mengidentifikasi derajat kurang nutrisi dan menentukan pilihan intervensi.
2. Pertimbangan
keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.
3. Mengukur
kefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
4. Mencari
pemecahan masalah, untuk meningkatkan pemasukan nutrien.
5. Membantu
menghemat energi., khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat
6. Menurunkan
perasaan tak enak, bekas sputum, obatmerangsang pusat muntah..
7. Memaksimalkan
masukan nutrisi..
8. Nilai rendah
menunjukan malnutrisi
9. Meningkatkan masukan nutrisi
adekuat.
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kanker paru
merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada wanita maupun pria, yang
sering kali di sebabkan oleh merokok. Setiap
tipe timbul pada tempat atau tipe jaringan yang khusus, menyebabkan manifestasi
klinis yang berbeda, dan perbedaan dalam kecendrungan metastasis dan prognosis.
Karena tidak ada penyembuhan dari kanker, penekanan utama adalah pada pencegahan,
misalnya dengan berhenti merokok karena perokok mempunyai peluang 10 kali lebih
besar untuk mengalami kanker paru di bandingkan bukan perokok, dan menghindari lingkungan
polusi. Pengobatan pilihan dari kanker paru adalah tindakan bedah pengangkatan
tumor. Sayangnya, sepertiga dari individu tidak dapat dioperasi ketika mereka
pertama kali didiagnosa.
Asuhan keperawatan pascaoperasi klien setelah bedah toraks
berpusat pada peningkatan ventilasi dan reekspansi paru dengan mempertahankan
jalan nafas yang bersih, pemeliharaan sistem drainage tertutup, meningkatkan
rasa nyaman dengan peredaran nyeri, meningkatkan masukan nutrisi, dan
pemantauan insisi terhadap perdarahan dan emfisema subkutan.
B.
Saran
Kanker paru sangat berhubungan dengan kebiasaan
merokok. Karena itu, pencegahan yang paling penting adalah tidak merokok sejak
usia muda. Berhenti merokok dapat mengurangi risiko terkena kanker paru. Akhir-akhir ini pencegahan
dengan Chemoprevention banyak dilakukan, yakni dengan memakai Derivat asam
retinoid, karotenoid, Vitamin C, Selenium, dan lain-lain.
Daftar
Pustaka
Barbara
Engram., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 1,
Penerbit EGC, Jakarta.
Corwin E.,
2001, Patofisiologi, Cetakan I, EGC, Jakarta
http://yuliasafwati.blogspot.com/2013/06/asuhan-keperawatan-karsinoma-bronkogenik.html
makasih mbak cantik, askepnya sangat bermanfaat.... :)
BalasHapus